Saturday, January 31, 2009

Hasil Jakarta B

1/4 final Jakarta B :
Cairo 6-3 black fc
P.arena 6-4 hastika telk0m
Ipra 4-2 lerina
Enrico 6-7 class fc, aet
Semifinal Jakarta B :
Cairo 2-5 Pro arena
Ipra 10- 8 Class Fc

Final jakarta B :
Pro Arena vs Ipra (14.00)

Final Jakarta A:
Gading Kusuma vs Rijak fc (15.30)

Pertandingan Final akan dilaksanakan Di GOR OTISTA. Acara dimulai Pada pukul 12.00 Wib. Penonton tidak dipungut bayaran. Akan dimeriahkan oleh Modern Dance dan Games menarik dengan berbagai macam Hadiah.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sunday, January 25, 2009

Final Jakarta A : Rijak vs Gading Kusuma

Rijak dengan mengejutkan berhasil menumbangkan 2 unggulan juara, Rizka dan UKI berturut - turut di perempat dan semifinal. Rijak mengalahkan Rizka dengan skor 4 - 2 dan juga berhasil mengalahkan UKI di semi final dengan skor 3 - 2. Finalis lainya adalah Gading Kusuma berhasil mengalahkan Hanggar dengan skor 3 - 2. Pertandingan final akan dilaksanakan di GOR OTISTA pada hari minggu 1 februari dimulai pukul 12.00. Akan ada games dan hadiah menarik bagi para penonton yang hadir. Demikian ldisampaikan oleh panitia bid. Pertandingan Made Yogiswara.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Laporan dari Yogyakarta

Juara1 planet futsal
juara2 sbr
juara3 victory
juara4 pelle fc

Selamat Untuk Planet Futsal!

-Rizky Adinugraha-
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hasil Solo, selanjutnya Yogyakarta Pukul 20.00

Juara 1 HATTRICK SFA
Juara 2 SRAGEN SELECTION
Juara 3 U - 23 KARANGANYAR
Juara 4 CAPPUCINO
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Saturday, January 24, 2009

Laporan Dari Samarinda

Juara 1, Persigata
Juara 2, ps putra lp
Juara 3, champion indoor balikpapan
Juara 4, persedaya
Top scorer, fachroni (wm fc)
Best player, andi (persigata)
Team fairplay, champion indoor balikpapan.
Pertandingan final berakhir 3-2 yg diwarnai dgn permainan keras dan 1kartu merah utk pmaen persigata.. Smpt ktinggalan 0-1, dan 1-2 dr putra lp, persigata dgn gagah dpt membalikkan skor menjadi 3-2. Hari ini juga berlangsung Partai Final di dua kota yaitu Yogyakarta dan Solo. Buka terus majalahsegaris.com
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Monday, January 19, 2009

Kritik Cerdas Gaya Gandrik: Sebuah Lorong Panjang di Malam Minggu


“Tepat pukul kosong kosong lebih kosong kosong, Undang-undang Susila telah ditetapkan secara sah dan meyakinkan. Dengan berlakunya Undang-undang ini, maka secara resmi dan konstitusional kita telah menjadi bangsa yang bermoral. Untuk itu secepatnya kita juga akan menyusun Garis-garis Besar Haluan Moral Negara…”

Susila Parna si penjual mainan anak-anak terus lincah menari. Lelaki yang ‘susunya kimplah-kimplah’ itu bergoyang-goyang diantara gemeletar suara musik tayuban yang meriah. Begitu asyiknya dia, sampai-sampai tak sadar ada yang mengendap-endap memperhatikan tingkahnya.

Merekalah para Polisi Moral yang mengincar ke segala arah dengan moncong senapannya, sambil membawa rambu-rambu larangan yang disebar di sepenjuru pusat kota. Dilarang menyusui. Dilarang berekspresi. Dilarang berpikir jorok.

Suasana Tayuban semakin ramai. Tarian para penari Tayub makin hot.
Mendadak terjadi kepanikan. Para Polisi Moral mengobrak-abrik tayuban. Malang, Susila yang tambun tak sempat lari, hanya melongo memandangi kejadian itu. Ia pun terjaring tak berkutik. Dalam kebingungan, lelaki ini dimasukkan ke sel tahanan. Dipersalahkan dan dituduh mempertontonkan bagian tubuh yang sensual. Dalam persidangan, Susila diperlakukan sebagai pesakitan menjijikkan, bahkan dianggap lebih berbahaya dari psikopat. Di dalam tahanan, ia diisolasi karena ditakutkan akan menyebarkan virus pornografi dan pornoaksi. Bahkan sipir penjara yang menjaganya sampai berbekal semprotan anti septic guna menghindari tertular virus mengerikan. Sebuah penggambaran situasi ekstrim ketika undang-undang menjadi ukuran moralitas bangsa dan mendobrak masuk ke private domain individu.

Dalam interogasi Susila ditanya aparat dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat jauh dari yang ada dalam pengertiannya sebagai tukang mainan. Simak dialog tolol antara susila dan Petugas Kepala (diperankan dengan apik oleh Djaduk Ferianto) yang membuat saya benar-benar terbahak tanpa jeda dalam babak ini:

PETUGAS KEPALA: Barang-barang porno apa lagi yang kamu jual?! Kartu remi porno? Tabloid porno? Majalah porno? Eh… Bisa pesan majalah Playboy nggak?”

SUSILA: Saya nggak jualan gituan, Pak… Saya cuma jualan mainan…”

PETUGAS KEPALA: Jadi kamu jualan mainan sex? Apa saja itu? Kondom bergerigi? Viagra? Dildo? Vibrator? Boneka Barbie rasa strawberry? Vagina elektrik?… (lagi-lagi maju hendak berbisik.)

SUSILA: Pasti mau pesen, toh?… Saya nggak jualan gituan, Pak… yang saya jual itu cuma mainan anak-anak… terang Susila.

PETUGAS KEPALA: Kamu itu jualan anak-anak, begitu? Berapa usia anak-anak yang kamu jual itu?

SUSILA: Welah, bagaimana sih Bapak ini… Bukan jualan anak-anak, Pak… Jualan mainan anak-anak… Jadi yang saya jual itu mainan… Bukan anak-anak… Saya jualan mainan anak-anak, karena saya seneng sama anak-anak…

PETUGAS KEPALA: Ya, ya… jangan kecepetan omonganya… Saya bingung ngetiknya… Jadi kamu itu menyukai anak-anak… berarti kamu itu fedofil… Iya, tidak? Jawab yang yang jelas…

….. Susila pasti sangat kepingin garuk-garuk tembok.

Dalam persidangan yang bukan persidangan biasa yang digelar untuk mengadili Susila, dakwaan jaksa juga tak kalah ngawur. Boneka balon ditafsirkan sebagai benda-benda yang penuh dengan asosiasi sensualitas. Misalnya, dua balon yang diletakan pada dada akan membuat orang berpikir bahwa itu adalah payudara perempuan.
Susila dan pembelanya lantang menolak semua argumentasi jaksa. Menurut Susila balon bagi mata anak-anak hanyalah sebuah mainan yang menyenangkan. “Di otak orang dewasa yang ngeres seperti bu jaksa ini, balon adalah sensasi-sensasi seksualitas,” kata Susila.

Belakangan Susila mendapatkankan banyak simpati dan menjadi simbol perlawanan. Dia menjadi pahlawan karena berani menentang Undang-undang Susila, yang baru disahkan. Atas bujukan Mira, Susila lalu kabur dari dari penjara. Seluruh pasukan kemananan dikerahkan mencarinya, dan Susila tertangkap tapi dalam keadaan mati.

Mengapresiasi pentas drama yang naskah awalnya ditulis oleh Ayu Utami ini pun terasa seperti berjalan di lorong panjang de javu dalam kepala saya. Permainan Whani Darmawan (Ibu Jaksa), Butet Kertarejasa (Mbak Pembela), Susilo Harso (Susila Parna), dan Heru Kesawa Murti (Pak Hakim) menggiring saya kepada ingatan setahun silam saat perdebatan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi pembahasannya nyangkut di parlemen. Polemik itulah yang dicoba dibayangkan oleh Ayu Utami dan Agus Noor saat menulis naskah Sidang Susila.

Walau pementasan malam itu, 17 Januari 2oo8, di Teater Salihara, Pasar Minggu, tidak padat penonton, tapi Gandrik tetaplah Gandrik yang selalu tancap gas, bahkan sejak menit-menit awal. Dengan gaya sampakan*, panggung menjadi arena pemain untuk mengelaborasi peran mereka. Penonton seolah tak diberi jedah untuk bernafas karena langsung terpingkal atau meringis miris.

Lihat saja ketika Susila yang diperankan oleh Susilo Nugroho mengeksplorasi akting di depan sebuah toilet penjara: dia memaksimalkan toilet sebagai lawan main, sambil duduk termenung di atasnya, berdiri, tiduran atau obral kentut. Atau Whani Darmawan, yang secara mengejutkan – karena lebih banyak berakting di pentas taat naskah– menjadi bintang pementasan. Bermain total tanpa sempat kehilangan konsentrasi, ia berkali-kali menjaring tawa penonton dengan guyon sampakan. Whani menjadi Ibu Jaksa yang sok suci dan melekatkan karakter khas sebagai pastor pengkhotbah, yang luar biasa lucu sekaligus mengena: betapa moral seringkali diasosiasikan dengan aktivitas relijius. Sebuah asumsi yang sesungguhnya dangkal dan superficial.

Secara keseluruhan, Gandrik tampil prima malam itu. Dan sama dengan setiap pemunculannya, pada Sidang Susila di Salihara, Gandrik tetap energik dengan gerak tubuh, dan dialog-dialog yang dikemas dalam guyonan parikena k- menyindir secara halus tanpa menimbulkan kemarahan yang disindir.

Dengarlah keluhan Susila di penjara. “Zaman Suharto dulu orang sibuk mengumpulkan harta, zaman Susilo orang sibuk menegakkan Susila. Zaman Suharto tak kebagian harta, zaman Susilo saya dijerat Undang-undang Susila.”

Diakhir kisah, Susila yang tak bisa dihadapkan ke persidangan karena telanjur mati, digantikan dengan sebuah toilet yang diusung ke hadapan hakim untuk diadili. Vonis dijatuhkan dan Undang-undang Susila sukses ditegakkan.

“Dia adalah penjahat moral pertama yang berhasil kita tangkap dengan undang-undang susila ini” kata jaksa yang diperankan Whani Darmawan.

Garisbawah itu dicoret dengan tegas oleh Ayu Utami dan Gandrik, bahwa calon produk hukum yang ‘peduli terhadap moral bangsa’ itu begitu multitafsir. Tak ada batasan yang jelas, yang membuatnya jadi sangat berbahaya. Di tangan yang jahat, pasal-pasalnya yang kabur bisa dimanfaatkan untuk menjerat orang tidak bersalah, bahkan memfitnah. Teks ini seolah-olah sekaligus menegaskan bahwa pikiran (mind) senyatanya demikian berkuasa (karena apa yang dijerat oleh pasal-pasal RUU PP sesungguhnya adalah asumsi-asumsi). Sampai-sampai ada pihak yang demikian menakutinya dan merasa perlu membuat undang-undang untuk memenjarakan pikiran.

“Undang-Undang Susila yang mengatur moralitas dan susila masyarakat ditetapkan secara sah dan meyakinkan. Dengan berlakunya Undang-undang Susila ini, maka secara konstitusional kita telah menjadi bangsa yang bermoral dan bertata susila. Maka daripada itu, segeralah disusun Garis-garis Besar Haluan Moral Negara, di mana segala macam bentuk pornografi dan pornoaksi akan dihapuskan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

"Sidang Susila" hadir sebagai pengingat, bahwa ada agenda besar yang hampir kita lupakan, yang merupakan ancaman skala raksasa terhadap kebebasan berpikir dan berekspresi orang per orang. Sesuatu yang sesungguhnya begitu berbahaya. Pentas ini juga mencoba mendudukkan kita untuk bersikap kritis pada tempatnya. Banyak orang begitu saja menyetujui RUU PP tanpa mengetahui kalimat per kalimat dalam pasal-pasalnya. Ini adalah sikap yang salah kaprah.

"Sidang Susila" adalah pentas karikatural yang sangat kaya dengan penggambaran gejala distopia pasca diberlakukannya UU Pornografi dan Pornoaksi, Sebuah colekan untuk tidak berhenti dan lupa melawan segala yang merepresi kreatifitas. Karena sesungguhnya harapan belum mati. Masyarakat selalu punya daya untuk melawan. Kalau itu bisa terjadi di dalam pentas, kenapa sekarang kita bungkam?

*Sampakan adalah paradigma teater yang mencairkan pertunjukan dan melepaskan dari kaidah-kaidah teater yang ketat. Lewat cara ini aktor bisa lebih luwes mengolah perannya. Misalnya dengan berkomunikasi dengan penonton atau mengeksplorasi properti dipanggung. Contoh pentas sampakan adalah ludruk.

Friday, January 16, 2009

Yogya dan Solo Dimulai

pada tanggal 17 Januari 2009 telah dimulai acr G23 Futal Tournament 'Ayo Rebut Piala Jusuf Kalla' untuk kota Jogja dan Solo. Sebanyak 32 tim dari Jogja dan Solo akan memperebutkan Satu tiket Ke Jakarta. Seperti diungkapkan Rahmat Prabowo dari panitia G23 Futsal Tournament, Untuk pembukaan kota Solo dibuka Oleh Wakil Wali Kota Surakarta.
Ditempat terpisaha Rizky Adinugraha di Jogjakarta pembukaan dihadiri oleh pejabat Pemda setempat serta dimeriahkan oleh Band SKJ 98.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sunday, January 11, 2009

Samarinda Kota Ke 6 (G23)

11 Januari 2009 G23 Futsal Tournament 'Ayo Rebut Piala Jusuf Kalla' memasuki kota samarinda, Samarinda merupakan kota ke enam yg menyelenggarakan turnamen ini dari total 14 Kota yang akan menyelenggarakan turnamen ini. Total tim yang bertanding adalah 32 tim yang memperebutkan satu tiket ke Jakarta untuk berlaga di Grand Final dan merebut Piala Jusuf Kalla. Total hadiah yang diperebutkan untuk region Samarinda ialah 23 Juta Rupiah.

Tuesday, January 6, 2009

Surabaya

Ketua Panita PusatG23 Futsal Tournament, Fazwan Kusumadinata bersama Salahsatu peserta.

Sent from my BlackBerry®

powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Pemenang Surabaya 'Mahasiswa'

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

SURABAYA

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Monday, January 5, 2009

Jadwal Terbaru Tiap Kota G23 Futsal Tournament

Samarinda:11 januari '08
Solo&jogja: 17 januari '08
Medan: 24 januari '08
Bogor: 8 februari '08
Malang: 15februari '08
Makassar: 22februari '08
Bali: 1. maret '08

Tech meeting akan dilaksanakan sehari sebelumnya. Ikuti terus update seputar G23 Futsal Tournament 'Ayo Rebut Piala Jusuf Kalla'.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sunday, January 4, 2009

Gempa di Sorong Dan Manokrawi

Gempa berkekuatan 7.6 skala richter telah meluluhlantakkan tanah papua barat dengan pusat gempa berada di manokwari. Info terakhir, bandara Manokwari lumpuh total serta rumah, beberapa gedung dan hotel rusak/runtuh. Bila teman - teman yg ingin menyalurkan bantuan kpd saudara - saudara kita yg sdg tertimpa musibah di papua melalui HIPMI, mulai besok akan dibuka posko Hipmi Peduli di sekretariat BPP Pasar Minggu.
Bantuan dana dapat lgs disalurkan ke rek.HIPMI PEDULI Bank Mandiri cab Pasar Minggu
Ac.No. 101.000.4368286

Terimakasih,
Semoga Tuhan memberikan kekuatan kpd teman2 kita disana yg sdg dirundung musibah.

Mahasiswa mewakili Surabaya Ke Jakarta

Mahasiswa menjadi tim ke 3 yang memastikan diri tampil di Grand Final G23 Futsal Tournament 'Ayo Rebut Piala Jusuf Kalla' di Jakarta setelah mengalahkan Buldozer 2 - 0.

Sent from my BlackBerry®

powered by Sinyal Kuat INDOSAT